Dari dulu sampai sekarang, selalu dinarasikan tantangan moral generasi anak sekarang lebih buruk atau yang biasa diistilahkan dengan "zaman edan". Hal ini menuai dua respon di masyarakat terutama para ayah dan ibu yang dihadapkan nasib perilaku anak-anak mereka.
Dua respon tersebut yaitu: pertama, sikap suka mengeluhkan tantangan degradasi moral dan suka membanding-bandingkan zamannya dengan sekarang. Sikap kedua, memberikan tantangan kepada pra ortu untuk memperbarui dan menyesuaikan cara menghadapi ini semua, dengan membuka diri dan belajar trik-trik baru dalam mendidik anak.
Sikap mengeluh dan membanding-bandingkan itu bisa jadi disebabkan oleh dua hal. Pertama, orangtua yang tak sadar selalu terdoktrin bahwa akhir zaman selalu akan lebih buruk. Baik doktrin itu terserap dari ajaran agama yang disalahpahami atau karena narasi orang-orang tuanya dulu yang demikian.
Dampak negatif dari sikap pertama di atas setidaknya ada tiga yaitu rasa pesimis, menyalahkan zaman dan malas belajar.
Berikut beberapa koreksi untuk sikap pertama di atas. Pertama, bila kita mengeluhkan zaman yang semakin buruk buat anak-anak kita. Padahal dahulu orang-orang tua kita juga mengeluhkan zaman yang demikian. Toh hingga sekarang tetap stabil-stabil saja. Kebaikan dan keburukan tetap terjadi di zaman kapanpun. Kedua, persepsi tersebut ternyata tidak selalunya tepat di realita lapangan. Justru wanita berjilbab generasi ini lebih semarak daripada era orde baru atau awal-awal kemerdekaan. Komunitas dakwah lebih ramai dari tahun ke tahun. Bahkan pesantren pun menjamur di sepuluh tahun terakhir ini dan saling berkompetisi.
Dan apabila diyakini bahwa zaman ke zaman semakin memburuk. Lalu untuk apa gunanya kita memiliki keturunan bila hanya akan menciptakan generasi yang semakin buruk atau membiarkan mereka hidup di zaman itu.
Masukan untuk persepsi pertama di atas. Beri waktu untuk mendidik anak, bukan sekedar saat masih kecil. Tetapi hingga seterusnya dan ilmu yang sesuai di usia dan tantangannya. Ciptakan keluarga dan suri tauladan yang menerapkan nilai-nilai agama. Berani menyisihkan waktu untuk membangun keluarga yang baik. Pasti hal ini mengurangi jam kerja mencari nafkah. Tugas orangtua bukan sekedar membesarkan fisik anak. Tetapi juga ilmu, keteladanan, mental dan mindset juga tak kalah penting harus diperhatikan.
Bila tak sanggup melazimi saran di atas, opsi selanjutnya adalah menyekolahkan agama atau ke pesantren. Mungkin bapak ibu akan berkata: pesantren sekarang tidak menjamin kebaikan anak, justru tidak sedikit kasus kejahatan yang muncul dari pesantren.
Tanggapan: perlu adanya kerjasama antara orangtua di rumah dan pendidik di pesantren. Pesantren bukan tempat pelarian dari kemalasan mendidik. Bukan juga tempat pembuangan akhir karena keputusasaan mengarahkan. Tetapi pesantren adalah ruang membentuk generasi saleh salehah. Membutuhkan keterlibatan banyak pihak untuk mewujudkannya. Pihak pesantren juga perlu memberi edukasi pendidikan kepada wali santri, bukan hanya mendidik santri saja.
Lalu bagaimana dengan saran untuk sikap yang kedua?
Orangtua yang berada pada sikap kedua. Mereka harus senantiasa belajar, membuka wawasan ilmu dan mencari tahu pengalaman mendidik. Bukan hanya sekedar itu. Untuk merealisasikan saran di atas. Tentu mereka juga memiliki kesiapan secara ekonomi, baik kemandirian ataupun kesabaran saat sulit. Di mana kesiapan tersebut dapat menunjang para bapak ibu untuk menyempatkan diri belajar lagi. Terus membenahi diri, hingga Allah Ta'ala tutup usianya dalam keadaan terus berbenah. Sehingga dapat mengesankan di hati anak, dan akan meneruskan visi misi kebaikan orangtua mereka.
Sekian tulisan ini semoga bermanfaat.
Cawan, 09 Dzulqa'dah 1447 H