
Seperti biasanya, suasana pagi buta di hampir penghujung bulan April ini udara masih sejuk, fikiran cukup fresh, hati relatif stabil dan emosional tak ada gejala akan bergejolak.
Namun berubah, saat-saat ruangan media sosial dihebohkan dengan berita dari Yogyakarta. Berita yang memecah keheningan, membelalakkan dan menggiring jutaan mata kepadanya dalam sekejap, menutup isu-isu lain yang tak kalah penting, bahkan menyulut kobaran perasaan kesal yang ingin mengungkapkan beribu-ribu rahasia mengapa fenomena itu bisa terjadi.
Berita itu adalah pengerebekan salah satu daycare di Yoyakarta. Didapati ada kekerasan terhadap balita-balita titipan, dengan mengikat kaki tangan mereka agar tidak banyak gerak, menaruh mereka dalam satu ruangan bersamaan, melelapkan, mengenakan mereka busana kecil penutup kemaluannya. Ada yang menangis, tertidur bahkan tergeletak di atas lantai tanpa alas dan baju di punggungnya.
Berita tersebut menampar eksistensi tempat penitipan balita secara umum, dan menggertak para orang tua yang bermudah-mudah atas tanggungjawabnya. Lantas, apa yang ingin kembali kita tekankan untuk meningkatkan kesadaran tanggungjawab besar ini?
Berikut beberapa ajaran agama akan pentingnya konsentrasi orang tua terhadap anak-anak mereka, agar tidak bermudah-mudah dalam memperhatikan mereka:
Kesadaran Penuh Sebagai Ibu
Ibu memiliki posisi strategis dalam perjalanan tumbung kembang anak-anak mereka. Ibu adalah pionir sejak dini dan pendidik sejak usia balita. Sebagaimana diungkapkan dalam sebuah pepatah, “Ibu adalah taman kanak-kanak pertama bagi putera-puterinya”. Sosok pendidik ini tak hanya memulai pendidikannya saat telah melahirkan, melainkan sudah merintisnya sejak usia kehamilan.
Ibu Teman Terbaik Bagi Anak
Sebagaimana diajarkan oleh Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, ibu adalah “husnus shahabah” yang berarti “teman terbaik”. Disebutkan dalam sebuah riwayat:
جاء رجل إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم، فقال: من أحق الناس بحسن صحابتي؟ قال: أمك. قال: ثم من؟ قال: أمك. قال: ثم من؟ قال: أمك. قال: ثم من؟ قال: أبوك.
“Telah datang seorang lelaki kepada Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, ia bertanya: Siapakah orang terbaik untuk ku jadikan teman? Beliau menjawab: Ibumu. Dia bertanya lagi: Lalu siapa? Beliau menjawab: Ibumu. Dia bertanya lagi: Lalu siapa? Beliau menjawab: Ibumu. Dia bertanya lagi: Lalu siapa? Beliau menjawab: Ayahmu”.(HR. Shahih Bukhari dan Muslim).
Tampak jelas secara teks, ibu disebutkan tiga kali dan ayah sekali. Untuk menandakan kedudukan ibu yang sangat Istimewa bagi pekembangan anak sejak usia dini mungkin.
Terlebih bila ia adalah “ibu kandung”. Ialah yang paling tulus melebihi ibu-ibu yang lain, bahkan ibu tiri. Bila ibu tiri saja tak mampu menyamai posisinya, lalu bagaimana dengan ibu-ibu di rumah daycare yang motivnya adalah gaji dan upah.
Kesadaran Priorotas Tanggung Jawab
Bila kita telah memahami ajaran-ajaran agama tentang peran pentingnya sosok ibu sejak usia dini mungkin, bahkan mulai dalam kandungan. Maka akan menjadi hal yang perlu untuk menempatkan peran ini dalam prioritas hidup orang tua. Amanah ini kelak akan dipertanggungjawabkan, sebagaimana amanah yang lain.
Hal yang manjadi alasan mendasar terlantarnya amanah ini biasanya karena faktor desakan ekonomi. Yang memprihatinkan manakala dorongan itu dilandasi oleh tuntutan keinginan dan kepuasan yang direka-reka, tinggi dan menyusahkan. Hal tersebut muncul karena tidak adanya “standar darurat” dalam hidup yang seusai petunjuk agama. Bila kita menengok standar darurat itu, maka kita akan menjumpai. Darurat adalah “Tidak bisa, tidak baik keberlangsungan hidup ini bila terlepas darinya” sebagaimana Sheikh Yusuf Al-Qardhawi memaknaiknya dalam bukunya Fi Fiqh al-Awlawiyyat.
Alias, bila seseorang telah memenuhi syarat-syarat untuk hidup baik, lancar dan aman. Maka kita masih memiliki waktu untuk aktiviras yang lain. Kesempatan untuk keluarga, silaturahim, berbagi ilmu dan hal-hal positif yang lain. Hidup ini bukan kebahagiaan yang dibuat-buat lantaran sifat kita dan negara kita yang konsumtif tak ada kenyangnya mengejar kepuasan-kepuasan baru. Bukan juga soal “diberi bayaran” dan “cara memberi bayaran”.
Hanya Ibu yang Memiliki Rahim
Tahukah Anda, mengapa ruangan elastis di perut ibu itu bernama rahim? Bila Anda membacanya dari berbagai sumber. Anda akan jumpai bahwa itu adalah bentuk kasih sayang Allah Ta’ala kepada sang ibu secara khusus, yang tak diberikan serupa kepada ayah. Dalam hadis Nabi, kata “rahim” adalah kasih sayang. Siapapun yang mendapat kasih sayang, maka ia telah memperoleh serpihan dari serpihan-serpihan dari Yang Maha Pengasih. Dalam sepenggal hadis, Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
الرحم شجنة من الرحمن، من يصلها يصله، ومن يقطعها يقطعه
“Sifat penyayang adalah serpihan dari Sang Maha Kasih, siapa yang melestarikannya, maka Allah Ta’ala akan melestarikannya. Siapa yang menelantarkannya, maka Ia akan menelantarkannya”.(HR. Bukhari dalam Kitab Adabul Mufrad).
Kesadaran Sosial
Banyak orang-orang di sekitar kita yang mendambakan ingin memiliki keturunan. Bahkan bukan ingin memiliki, tetapi ingin berbagi ketulusan yang lebih dan limpangan kasih sayang yang penuh. Penantian itu lama bertahun-tahun barulah rahim suci itu berbuah merekah, lalu memberikan harapan kebahagiaan di hari-hari yang akan datang. Penantian itu bukan sekedar perjalanan waktu yang semu dan berlalu begitu saja. Melainkan goresan perasaan dan tangisan deru dalam sujud-sujud yang tak ada yang tahu dan mendengar kecuali Sang Maha Pemberi. Di antara mereka ada yang dikehendaki mengemban amanah ini setelah penantian panjang, ada yang di usia senjanya baru ia miliki, ada juga yang tutup usia produktif bahkan saatnya Kembali kehadirat-Nya, sedang sepasang suami-istri itu belum pernah merasakan berbagi kasih sayang kepada bayi mungil, lucu yang didamba-dambakan setiap orangtua itu.
Semoga tulisan ini menjadi pengingat kepada jiwa-jiwa kering yang hampir kehilangan arah dalam kemelutnya kehidupan yang lena dan fana ini.
Cawan, 29 April 2026